MALUKU SATU DARAH

Senin, 27 Desember 2010

sejarah negeri amalatu isdamlo

 

Asal Usul Negeri


Louhata Amalatu Siri Sori Islam

Tidak ada catatan tertulis ataupun kapata yang menyebutkan perihal kedatangan orang pertama dinegeri Louhata Amalatu Siri Sori Islam, tetapi dalam cerita-cerita lama banyak mengisahkan tentang orang-orang yang mula-mula mendiami desa Siri Sori Islam adalah orang-orang sakti, dalam pengertian karena mereka adalah orang-orang yang memegang teguh ajaran Islam baik dalam hal ibadah maupun penerapannya dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari, dan memiliki Karamah yang dianugrahi oleh Allah SWT.
Mereka diantaranya adalah :

1.Syeh Abdurrahman Assagaf Maulana Berasal dari Bagdad Iraq, beliau meninggalkan negeri asalnya bersama Syeh Abdul Aziz Assagaf ( Maulana Malik Ibrahim ) sekitar abad ke 12 M dengan tujuan menyiarkan Agama Islam Keseluruh penjuru dunia.
Sekitar tahun 1212 M, mereka tiba disamudra Pasai Aceh. Syeh Abdul Aziz Assagaf menetap di Aceh, sedangkan Syeh Abdurrahman Assagaf Maulana melanjutkan perjalanan menuju wilayah Timur dan tinggal didaerah Buton Sulawesi Tenggara ( 1213 M) dan mendapat gelar Ode Bunga (Ode Funa).

2. Zainal Abidin Al- Idrus
Berasal dari Bagdad Irak, tiba disemenanjung Malaysia pada tahun 1212M, kemudian menuju ke pulau Sulawesi dan sampai didaerah Selayar sekitar tahun 1214 M dengan misi yang sama yaitu menyiarkan Agama Islam.
Akibat perang antara kerajaan Goa di Makassar dan Kerajaan Buton di Sulawesi Tenggara, maka Zainal Abidin Al Idrus bertemulah dengan Syeh Abdurrahman Assagaf Maulana, keduanya kemudian sepakat untuk meninggalkan pulau Sulawesi dan menuju Maluku (Almuluqun). Untuk melanjutkan misi yang sama yaitu menyebarkan Islam secara lebih luas lagi.

Sampai dikepulauan Maluku keduanya singgah di Nusa Iha (Pulau Saparua) tepatnya di negeri Louhata Amalatu digunung Elhau yang pada waktu itu belum mempunyai nama. Digunung inilah Syeh Abdurrahman Assagaf Maulana mendirikan kerajaan Ama Iha, dengan gelar Sayyidna Baraba. Selama memimpin kerajaan Ama Iha beliau menikah dengan Nyai Mara Uta adik dari raja Pati kaihatu dari negeri Oma Pulau Haruku. Dari perkawinan ini beliau memperoleh 5 orang anak terdiri dari 4 putra dan satu putri yaitu :
-Nunu Mahu, yang kelak dikemudian hari menurunkan marga Wattihelu (cikal bakal marga Wattiheluw)
-Tabdede(Tablele) kelak dikemudian hari menurunkan marga Latuconsina dinegeri Pellau pulau Haruku.
-Haris Hamza mendapat gelar Kapitan Juma’ate dinegeri Laimu Pulau Seram.
-Musa Hari Mullah ( Kapitan Kawal) yang kemudian menurunkan marga Wattihelu, sopacoa, sopacoaperu dan talawa( dikisahkan kapitan Kawal tidak pernah menetap disuatu tempat) beliau selalu bepergian untuk menjelajahi seluruh wilayah Nusantara dan disetiap daerah dimana beliau singgah dan menetap selalu meggunakan nama yang berbeda .
-Mananeuna (anak perempuan satu-satunya)menikah dengan kapitan Raiyapu yang menurunkan marga Toisuta.

Zainal Abidin Al-Idrus
Di kerajaan Ama Iha bergelar “ Somallo “
Beliau menikah dengan Nyai Wasolo (putri Paku Alam dari Kraton Solo). Mereka dikaruniai seorang putra bernama Bahrun. Dan dari Bahrun ini yang kemudian menurunkan marga Holle di Siri Sori Islam.

Akibat perang antara Uli Lima dan Uli siwa, maka Syeh Abdurrahman Assagaf Maulana dan Zainal Abidin Al-Idrus meninggalkan kerajaan Ama Iha.
Secara Syariat Syeh Abdurrahman Assagaf Maulana meninggalkan kerajaan Ama Iha, Tapi secara Hakekat beliau mengangkat dan berangkat bersama kerajaan Ama Iha menuju tanah Papua daerah Rumbati.(dikelak kemudian hari anak cucu dari rumbati ini akan mencari tanah asal leluhurnya di Ama Iha Pulau saparua, dengan cara mencocokkan tanah yang diabawahnya dari Rumbati, yang ternyata adalah tanah dari Rumbati itu adalah tanah Ama Iha juga yag dahulu dibawah oleh Syeh Abdurrahman Assagaf Maulana Saniki yarimullah dari Ama Iha menuju Rumbati).
Sedangkan Zainal Abidin Al-Idrus menuju pulau seram bagian selatan tepatnya di negeri Sepa. Disini beliau mendapat gelar Kapitan Tihuruwa (kapitan dari saparua).
SYEH ABDURRAHMAN ASSAGAF MAULANA DI TANAH PAPUA

Syeh Abdurrahman Assagaf Maulana Secara hakekat membawa istri dan kerajaan Ama Iha menuju tanah Papua (Tanah Rumbati Yoni Epapua) sekarang masuk wilayah Fak-Fak.
Beliau menginjak kaki kirinya ditanah Geser dan kaki kanannya langsung ditanah Rumbati.
Sedangkan ke lima orang anaknya tetap tinggal ditanah kerajaan Ama Iha( negeri Louhata Ama Latu Desa SSI ).
Dirumbati beliau menyiarka Agama Islam Sekaligus mendirikan kerajaan Woni Epapua dan bergelar “ Koneng Papua “(putra dari Khayangan).
Syeh Abdurrahman Assagaf Maulana (dikenal juga dengan nama Maulana Saniki Yarimullah) selama berada di Rumbati bersama Nyai Marauta memperoleh Sepuluh Orang anak (tujuh laki-laki dan tiga orang anak Perempuan).
yaitu :
1. Masbait Pusan alias Masapait /Aliwanta Marga Patty di SSI
2. Hahosan alias Abu Hasan Alias Abuasa : bermarga saimima di Ssi
3. Mera Lau : Kapitan Nua Uruwo ( Alifuru ) dipulau Seram
4. Raja ampat Kerajaan Misol ( kepulawan Raja Ampat)
5. Raja Anggaluli : Marga Saimima di Anggaluli Fak-Fak
6. Raja Patiran : Di rumbati Fak-Fak
7. Poi Masa : Marga Maspait Islam,Marga Maspaitela nasrani didesa Key
8. Poi Waru : Raja Fak-Fak ( Marga patagars )
9. Poi sina Raja Kokas (marga Pattimura) dikokas Fak-Fak
10.Kasihanilale (Sultan Banda) : yang kemudian menurunkan marga Patty di Alang pulau Ambon, marga Latu dipulau Seram, dan marga patty di timor-timor).

Pada Akhirnya, Masapait, Aliwanta, Hahosan(Abuwasa), Mera Lau dan Poi Masa pergi meninggalkan Rumbati untuk mencari saudara-saudara mereka yang masih bermukim di dikerajaan Ama Iha (negeri Siri sori Islam).


KAPITAN SILALOI
(LOHILO MANUPUTI/SALATALOHY)


Salah satu kapitan dari tanah papua desa rumbati yang berasal dari suku Ala melakukan perjalanan menuju Seram selatan tepatnya di negeri Hatumeten. Kemudian menikah dengan Nyai Tolansa, dan dari perkawinan itu dikaruniai tiga orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan yaitu:

1.Timamole
2.Simanole
3.Silalohi (lohilo manuputi)
4.Nyai Intan
5.Nyai Mas

Setelah dewasa ketiga orang anak laki-lakinya sepakat untuk pergi meninggalkan Hatumeten. Niatnya ini disampaikan kepada kedua orang tua mereka, sang ibu kemudian mengambil sebuah mangkok untuk membuat sumpah janji dengan meminum tetesan darah dari jari-jari tangan ketiga saudara tersebut, adapun sumpah janji itu antara lain berisi:
Tiga saudara adalah satu gandong(kandung)
Dimanapun mereka berada mereka harus saling melihat antara satu dengan yang lain

Sumpah janji ini bersifat mengikat sampai dengan anak cucu secara turun temurun, kemudian ketiga saudara tadi pergi meninggalkan kampung halamannya di negeri Hatumeten.
Sampai di Hatumari ibu mereka menampakkan diri sedang memegang sebuah mangkuk dan tempat tersebut kemudian dinamakan hatumari. Letaknya kurang lebih disebelah timur negri Tamilou dipulau seram kabupaten maluku tengah. Disinilah Timanole menetap dan berkuasa.

Sementara dua saudaranya yang lain yaitu Simanole dan Silaloi melanjutkan perjalanan menuju nusa Iha di pulau Saparua, dan tiba di bagian timur nusa Iha tepat nya di Siralou (batu Ananas)kemudian Silaloi turun dan naik kegunung Ama Iha(gunung Elhau) bekas kerajaan Ama Iha dan kemudian menetap disitu.

Sedangkan Simanole melanjutkan perjalanan menuju nusa yapono di pulau Ambon kemudian menetap dinegeri Toisapu di Hutumuri (Toisapu dapat diartikan menyelupkan orang kedalam air berkali-kali sampai meninggal karena dianggap mata-mata belanda)
Tidak lama kemudian kedua saudara perempuan yaitu Nyai Intan dan Nyai Mas menyusul mereka. Nyai Mas Sampai di Ama Iha dan menetap dengan Silaloi, Kemudian menikah dengan kapitan Manuhutu dari negeri haria. Sedangkan Nyai Intan terus melanjutkan perjalanan mencari saudaranya Simanole sampai bertemu kemudian menetap bersama Simanole dan menikah dengan kapitan Bakar Besi dari nergeri Waai

Sebagai catatan salah seorang kapitan yang menetap di Ama Iha adalah Ulama’ besar dari daerah Tuban Jawa Timur yaitu Abdullah Sopaleu. Suatu ketika kapitan Abdullah Sopaleu ini mengumpulkan para kapitan di Ama Iha dan mengambil inisiatif sebagai pemimpin pertemuan dan bergelar Pikalouhata.


Ana Latu Warua (Dua anak Raja)


Akibat perselisihan antara kapitan Huameseng dengan raja patiran dikarenakan Hua meseng ingin menikah dengan Poimasa (sala satu saudara perempuan dari sepuluh bersaudara ) ditolak oleh raja patiran sekitar tahun 1283 M, Hahosan, Maspait, Merah lau, serta Poi Masa sepakat meninggalkan kampung halaman(desa Rumbati tanah Papua) untuk mencari saudara-saudara mereka yaitu
Nunu Mahu
Tablele
Haris Hamza
Musa Harimullah(kapitan kawal)
Mananeuna

Menuju kerajaan Ama Iha di Nusa Iha (Saparua)
Sebelum berangkat, mereka mengambil tanah atau Pasir yang ada di Rumbati untuk dibawa serta dengan maksud untuk dicocokkan / ditimbang dengan tanah di setiap tempat yang kelak mereka singgahi, apabila tanah yang mereka bawa terdapat kesamaan/cocok dengan tanah setempat berarti itulah tempat yang mereka cari dan mereka akan menetap disitu.
“Turu lau haito aru laino nepayuna poli-poli,Hi inu sengge yara laa malu-malu, Sooto sa’a tana poli-poli, Poli – poli se emanu laa oo
Timi hatu waiye loto yoni nepapua, Latu taha muli umarole sawa
waelo mara bone oo”

Pada waktu yang telah ditentukan berangkatlah mereka menuju pantai, kemudian Hahosan(Abuwasa) menggambar sebuah perahu diatas pasir, saat pasang air laut menyentuh gambar perahu seketika gambar perahu itu berubah menjadi perahu sungguhan dan siap untuk dipergunakan.
Keempat kakak beradik itu naik kedalam perahu (poli-poli) berlayar meninggalkan kampung halaman serta kedua orang tuanya untuk berlayar mencari Ama Iha di Nusa Iha(pulau Saparua), dengan menyusuri Nusa Ina (pulau seram), Nusa Yapono (pulau Ambon), Pulau Haruku dan pulau Banda. Adapun beberapa tempat yang sempat mereka singgahi selama perjalanan antara lain:

-Seram Laut daerah Geser di seram Timur
-Geslau,Hatumete di Seram bagian timur tepatnya di Werinama
-Pantai Salaiku negeri Haya di Tehoru
-Pantai Hatumari di negeri Tamilou seram selatan
-Tanjong Koako di Desa Amahai Seram selatan
Sementara mereka singgah untuk beristirahat di Tanjung Koako, Amera lau pergi mencari Kusu(sejenis binatang koala yang dalam bahasa SSI disebut makello)
- Air Nua(waenua) disini mereka bertemu dengan kapitan Tihirua (kapitan dari Saparua bernama Imam Zainal Abidin Al-Idrus), kemudian Amera lau menetap diwilayah itu tepatnya di negri Sepa (seram selatan) dan manjadi Malesi(pengawal) Imam Zainal Abidin al-Idrus dan bergelar Nuo Huruwo (putra/kapitan)
-Tanjung Sial ujung seram bagian barat atau tanah Huamual. Tanpa Amera lau mereka tiba ditanjung sial dan bertemu dengan kapitan tanjung sial kemudian mereka bertanya dimana letak nusa Iha, dan kapitan tanjung sial kemudian menunjuk latu soumete sebagai penunjuk jalan menuju nusa Iha
-Pantai Honimua di desa Liang pulau ambon
-Tanjong Pesirolo(batu kapal) dipulau Haruku

“Yale wati noue tetu sallo emamanu,
Yale tau otetewa tetu emamanu tetu pisarole
Latu sopamena..usa latu sopamena pele mena ,latu pele mena
Usa latu pele mena epala tota ina latu semia lewe rua oo
Uwa leuwa rua nusu hale hehi yai otonno sane…
Tali telwo sane ninitanno ina latua nirupanno
uwaleu rua mitati ina latua wau upu usa latu…
Usa latu soka ina latua,soka ina latua …emi ruhu tua ina latua
Usa latu hotu hita erehuwe
Hita erehue tau ina latua
Uwa leu warua taha rimbu timi esa,
tati ina latua wau usa latu
Usa latu soka ina latu
Soka ina latu emiruhu tua ina latua
Latwa taha muli umarole sawa wailo marabone
Lawa hasa-hasa hehi nusa iha”

Disekitar batu kapal mereka mendapat rintangan dari pengawal kapitan Huameseng berupa Husamaulo yakni seekor ikan paus yang menghalangi perjalanan mereka. Yang menghendaki Poimasa (nyai intan) untuk terjun kedasar laut bersamanya. Mereka mengelabui Husamaulo dengan jalan membuat boneka dari kayu yang menyerupai Poimasa, tapi siasat ini tidak berhasil karena Husamaulo tambah marah dan membuat air laut berombak besar sampai membahayakan perahu mereka.
Poi masa lantas berkata kepada kedua saudaranya Abuasa dan Aliwanta” jangan hiraukan saya, turunkan saya segera untuk memenuhi permintaan Husamaulo “. Akhirnya kedua saudaranya memenuhi permintaan poimasa, kemudian diangkatlah poi masa untuk dilepaskan kelaut. Ikan Paus kemudian timbul lalu memeluk poimasa dan menyelam bersama kedasar laut tepatnya ditanjung pasirolo(tanjung batu kapal) pulau Haruku.
Dengan demikian tinggallah tiga besaudara yang tetap akan meneruskan perjalanan yaitu : Abuasa, Aliwanta,dan Soumete Tita Nusa.
Di Pulau Banda mereka singgah karena salah arah berhubung berlayar pada malam hari. Disinilah Soumete bertemu dengan Samadun(Lilimala Wakano) yang menjadi marga Sopaheluwakan di SSI, dan mengajaknya bersama-sama mencari Nusa Iha. Perjalanan dilakukan di malam hari.
Sesampai di Pantai salaiku di Ama Iha(Elhau).
Setelah tujuh hari tujuh malam dalam perjalanan sampailah mereka di Ama Iha(negri louhata Amalatu)di Nusa Iha.

Menjelang pagi mereka tiba di bagian tenggara nusa Iha. di pantai salaiku tiba-tiba mereka mendapat tegur dari darat, maka terjadilah dialog sebagai berikut:
D (darat)…sei nambe lau yemi sei nambe lau (siapa dilaut kamu siapa dilaut)
L ( laut) Yale tau otetewa yami yana latu warua turu wehe yoni nepapua( kamu tidak tahu !!! kami ini dua anak raja turun dari tanah papua)…. Sei nambe lia yale sei nambe lia( siapa didarat kamu siapa didarat)
D…(darat)..Yale tau otetewa yau lohilo manuputi turuwehe loto uamano elhau( engkau tidak tahu bahwa saya adalah Lohilo menuputi turun dari kediamanku negeri elhau)
Mae mituru mae yau wasaloomi kura sou adato(mari kemari saya terima kalian dengan adat yang ada disini), maka latu Abuwasa mengajak latu Aliwanta latu soumete dan latu samadun wakano (sopaheluwakan) untuk turun kedarat dan mereka pun disambut oleh latu Lohilo Manuputi.

Setelah mereka beristirahat sejenak Abuasa berkata kepada Aliwanta “ Heu ume tumbano epananuhu enale, ana latua sisuka sibirahi ooo”
“ turunkan tanah dan pasir kita yang kita bawah dari tanah Rumbati. Karena tanah dan pasir salaiku cocok dengan tanah pasir yang kita bawah dari Rumbati, maka mereka bersuka ria dan meminta untuk diijinkan menetap diama iha(elhau).
Catatan : Yang dimaksud tanah dan Pasir tersebut adalah tanah dan pasir dari Louhata Amalatu yang dahulu kerajaan Ama Iha dibawah oleh Syeh Abdurrahman Assagaf Maulana Saniki Yarimollah ke Rumbati tanah Papua secara hakekat, karena pada saat itu Kun Fayakun berlaku sehingga jelas tanah yang mereka bawa sama dengan yang ada di Ama Iha.

PEMBAGIAN WILAYAH
DAN PEMBERIAN NAMA NEGERI


Pembagian wilayah

Selesai menyambut ana latuwarua(dua anak raja Abuasa dan Aliwanta) yang datang dari Rumbati anggaluli(tanah Papua). Latu Soumete dari tanjung Sial (seram barat) dan Latu Samadun /Lilimala Wakano dari Banda (sekarang marga Sopaheluwakan di Siri Sori Islam). Mereka sepakat tinggal di Ama Iha(Elhau)Menjelang beberapa lama mereka berada di Ama Iha(Elhau) pada Lohilo manuputty ohatasou tula upu pikalouhata(suatu waktu Latu Lohilo Manuputi memberi tugas kepada Abdullah Sopaleu Pikalouhata antara lain ):
1.Pika upu lima taru-taru sei sei tua neani (satukan dan letakkan masing-masing sesuai dengan tugasnya)
2.Latu sopamena waka salaiku elai manuhua( Latu sopamena menjaga pesisir pantai salaiku sampai manuhua )
3.Latu Hahosan owaka salaiku na elai wesiolo(Latu Hahosan menjaga salaiku samapai kehutan)
4.Latu Ali wanta owaka hale manuhua elai wai hulua( Latu Aliwanta engkau menjaga mulai dari manuhua sampai air Surabaya)
5.Latu Abuasa owaka loto waitilo hena latu,(Latu Abuwasa engkau menjaga daerah Henaratu sampai di air Surabaya)
6.Upu latu Kawalo turu wehe ampatalo na hulai henalatu(Upu latu Kawal engkau menguasai benteng ampatal hingga henaratu )
7.Latu Kawalo sahu nane ulatilo utaha tumbano wae eluha(latu kawal segera menuju arah elhau dan tancapkan tombakmu ketanah sampai mendapatkan air)
8.Latu saimima otunu patamarane lia uma adato, Lia uma adat tomagola pailemahu tehuno nuru lete (Upu latu Abuasa bertugas untuk membakar lampu Patamaran sebagai alat penerang didalam Rumah adat Tomagola pailemahu teuno nuru lete)

9.Latu sahusiwa tula emi baleo( Upu latu sahusiwa persama rakyatmu)
10.Latu sahusiwa tula upu lebeo (upu latu sahusiwa bersama para hakim syariah(pengurus masjid)
11.Mae lolo oko ihiti doa wau upu lata’ala(kita bersama-sama berdo’a kepada Allah SWT)
12.Tati Rahmateo wau iko lolooko(supaya Allah SWT menurunkan Rahmat untuk kita semua sampai anak cucu kelak)
13.Lea muli na elai lau haha”(mulai dari daratan sampai dilaut)
Selesai pembagian wilayah kekuasaan Abdullah Sopaleu Pikalauhata berkata bahwa pada hari ini kita semua telah memiliki Latu/Raja yaitu Upu Silaloi (lohilo manuputi)

PERLUASAN WILAYAH

Menjelang beberapa saat datang perintah dari Upu latu Silaloi Lohilomanuputi kepada latu Abuasa antara lain:
1.Latu Abuasa kedepan untuk mengangkat para kapitan dan para malesi
2.suruh para kapitan dan para malesi untuk mengusir kapitan Aipasa dari benteng Ampatal dan keluarkan dia dari benteng itu menuju air beinusa Amalatu di desa Tuhaha. Selesai peristiwa pengusiran kapitan Aipasa, maka kapitan Aipasa meninggalkan benteng Ampatalo. Tapi didalam benteng itu masih tertinggal seorang anak perempuan yang bernama Siatuna. Ia tinggal didalam benteng, kemudian anak itu di ambil oleh kapitan Aliwanta sehingga Aliwanta mempersunting siatuna ,Dan dari hasil perkawinan tsb lahir empat orang anak yaitu :
-Masapait patty
-Patty Didi
-Patty Kakang
-Sesbakar Patty ( Catatan : Sesbakar Patty i nusu waal ahatido dan namanya berubah menjadi Frans Bakar Kesauli, Teunno dari marga patty bernama Siatuna)

3.Perintah dari Lohilo manuputi kepada kapitan kawal supaya naik ke halasinno untuk memukul mundur musuh sekaligus mengusir orang2 yang ada di halasinno untuk keluar meninggalkan halasinnno.
Untuk menuju ke halasinno kapitan kawal tidak bisa melewati benteng henaratu, atas saran dari latu Abuasa supaya kapitan kawal dibusur dengan ranting kayu dan memakai tali berwarna hitam dan alat busur tsb dipasang di tempat yang bernama wati.( catatan : Busur dari ranting kayu ditarik hingga melengkung (eheru), sehingga kapitan kawal bermarga Watiheru atau watihelu ). Dengan bantuan alat tsb kapitan kawal dapat diterbangkan sehingga melewati benteng henaratu dan masuk ke lokasi halasinno serta berhasil mengusir orang2 yang ada di halasinno. Sebagian dari mereka lari ke Nusalaut dan mendiami negerinya yang sekarang bernama Leinitu. Sebagian lagi menuju ke nusa ina (pulau seram) bagian barat dan bermukim di kairatu, sebagian yang lain menuju pulau haruku dan mendiami negeri sameth sampai sekarang
4.Latu lohilo Manuputi menyampaikan perintah kepada latu Abuasa untuk mengumpulkan para kapitano dan para malesi di Elhau.

Dalam pertemuan di elhau latu lohilo manuputi menyampaikan kepada para kapitan dan malesi antara lain:
kalian para kapitan dan para malesi, sekarang ini kalian harus masuk ke benteng lisaboli kakelisa, pukul mundur dan usir mereka dari puncak gunung urputil atau tetuwalo. Perintah pengusiran atau pengosongan benteng karena letaknya sangat dekat dengan elhau (+ 3km) arah selatan benteng elhau. Para kapitan dan malesi berhasil memukul mundur dan mengusir keluar orang2 yang ada dalam benteng. Akibat dari penyerangan ini maka timbul dendam dan terjadi serang-menyerang antara anak cucu louhata amalatu(SSI) dengan Lisaboli kakelisa (Negeri Ouw) untuk memperluas batas tanah atau batas negeri masing-masing.

Sekitar 1633 M pemerintahan belanda memerintahkan orang2 yang mendiami daerah hutan/gunung momolonno untuk turun dan membuat negrinya pada batas yang sering terjadi sengketa antara negri Louhatta Amalatu dan negeri Ouw.
Negri yang baru itu diberi nama Ulath karena penduduk negri berasal dari gunung atau ulatilo

PEMBERIAN NAMA NEGERI

Setelah latu Silaloi (Lohilo Manuputi/Salatalohy) dan Abuasa Saimima dengan kawan-kawannya berhasil memperluas daerah kekuasaannya, maka latu Silaloi dan Abuasa membuat kesepakatan untuk disampaikan kepada para kapitan dan malesi, yaitu kita semua pada hari ini turun meninggalkan gunung, dan kita jangan bersembunyi di gunung Elhau, Henaratu dan Ampatal. Kita semua sesegera turun ke pesisisr pantai untuk membangun negeri disana. Mendengar perintah itu serentak semua turun menuju pantai hunimua, disinilah latu Silaloi berkata: “para kapitano tula malesio itupa ilou weko he-e ihua ta a kusoulo sane, itaru kuamanno wehe nayanno”. (Para kapitan dan malesi, kita kumpul disini untuk mengatur dan memberi nama negeri kita).
Ana latu warua Upu latu Abuasa berkata “ Malepa ito ku amanno wehe nayanno Louhata Amalatu” kami sala satu dari dua anak raja Upu Abuasa memberi nama negeri kita ini dengan nama Louhata Amalatu.

Arti dan maksud dari nama Louhata Amalatu :
Lou= asal kata …..louwe (berkumpul)
Hata= asal; kata dari Hata‘a artinya angkat kaki dari tempat persembunyian di gunung-gunung.
Amalatu= bapa raja. mereka yang datang berkumpul atau bermusyawarah adalah raja dan para kapitan dan para malesi)
Louhata Amalatu berarti tempat berkumpul untuk musyawarah mufakat para raja dan kapitan serta malesi.

Selesai latu Abuasa memberi penjelasan mengenai arti nama negeri dari tempat mereka berkumpul untuk musyawarah, maka para kapitano serentak mengangkat suara “Elooooo….oooo eta mono nia upu latu warua…aaa… iya,kami atau kita setuju dengan nama negeri tersebut”
Para kapitan dan malesi sepakat dengan nama yang disampaikan oleh Upu Latu Abuasa, maka dengan resmi negeri itu diberi nama Louhata Amalatu dan dipimpin oleh Upulatu Lohilomanuputi.
Maka mulailah para datuk2 tsb mengatur dan membangun negeri Laohata Amalatu (sekarang Siri Sori Islam).

SUSUNAN RAJA-RAJA

Sebelum pemberian nama negeri dan masyarakat masih mendiami gunung-gunung maka gunung elhau adalah pusat pemerintahan dan latu yang mengendalikan negeri adalah silaloi sampai dengan pemberian nama negeri louhata Amalatu adalah raja:
1.Raja Masapait/Aliwanta
2.Masapait
3.Patididi
4.Al-Bimapara saimima(mungkin yang dimaksud Lipamara)
5.Masibukakang patti,akibat perselisihan antara Masibukakang dengan sesbakar patti(adiknya) yang telah memeluk agama nasrani maka belanda membagi negeri Louhata Amalatu menjadi dua bagian:
a.Negeri Louhata Amalatu dengan raja Masibukakang patty
b. Sidi Sodi Sarane dengan rajanya sesbakar patti (frans bakar kesauli)
6.Sabtu Patty
7.Adam Patty, negeri Louhata Amalatu berubah namanya menjadi negeri Siri Sori Islam, marga bapak raja patty menjadi Pattisahusiwa
8.Usman Pattisahusiwa Ragen
9.Abdul masjid (1) Pattisahusiwa, selama pemerintahannya terjadi perselisihan antara raja dengan saudaranya bernama Robo patty, maka Abdul Majid Pattisahusiwa 1 turun dari jabatannya dan diganti oleh Robo Patty dengan gelar Patty Khamarobo.
10.Patty Khamarobo, nasibnya sama dengan raja sebelumnya (Abdulmasjid 1), dia berselisih paham dengan saudaranya She’ri patty dan akhirnya Raja Robo pun turun dari jabatannya.
11.She’ri patty Raja di negeri SSI dan SSI saat itu berubah namanya menjadi negeri Louhata Amalatu, beliau diasingkan ke Pulau Banda karena menentang pemerintahan Belanda. Maka Raja she’ri bertemu dengan Sukarno, Moh. Hatta, dan Sutan Shahrir untuk merumuskan kemerdekaan Negara Republik Indonesia.
12. Abdul Aziz Pattisahusiwa, negeri Louhata Amalatu kembali berubah nama menjadi Siri Sori Islam
13. Moh. Saleh Pattisahusiwa
14. H. Mohammad (Bostir) Pattisahusiwa
15.H Abdul Karim Imron Pattisahusiwa, negeri Siri Sori Islam menjadi Desa Siri Sori Islam
16. Abdul Madjid 2 Pattisahusiwa
17. Jhoni Karim Pattisahusiwa
...dst

Bandung, 16 Juni 2008
(Ditulis kembali oleh: Upang Pattisahusiwa)


NB:Mohon koreksi dari basudarao bila ada kesalahan tafsir/pengertian baik dalam tulisan maupun bahasa penuturan pada tulisan ini

Sumber :
buku sejarah Asal-Usul tulisan asli berbahasa Arab gundul tidak bertasjid di tulis oleh H.Abdul Wahab Saimima Allahumma yarham Tete Ambong (Alm) pada tahun 1260 H.[/size][/size]

Posting Terkait





Artikel Terkait:

Views

1 komentar:

radista mengatakan...

apa yang di tuliskan diatas benar adanya karena ada terdapat unsurpembuktian dengan menambah raja negeri siri-sori isalm dari pertama sampai sekrang.

dengan menceritakan perjalanan syeh abdurrahman dari bagdad menuju negeri siri-sori islam dan stelah meninggalkan negeri tersebut beliau pergi ke negeri papua itu sangat menjadi perhatian bagi saya sebagai pembaca.....

apa yang tercantum di atas membuktikan bahwa sejarah negeri siri-sori masih kental di dalam lubuk hati anak cucu siri-sori islam yang satu ini.....

saya sebagai pembaca sangat berterimakasih kepada saudara igo patty yang telah menulis tentang sejarah asal usul negeri siri-sori islam.

tetapi ada satu hal yang membuat saya bimbang yaitu: saudara tidak menulis tentang pembagian marga di negeri siri-sori islam trus bagai mana sejarah marga-marga yang ada di negeri siri-sori islam....

mohon di perjelas lagi tulisannya karena banyak sekali yang belum anda cantumkan di atas

Poskan Komentar